Tuesday, August 16, 2016

Kota Surabaya Dulu Dan Sekarang ....Bagaimana Akan Datang? (Surabaya In The Past and Present Time...How About Its Future?)

Di Indonesia terkenal dengan istilah dalam bahasa Surabaya yaitu "Mlaku-mlaku Nang Tunjungan" yang artinya berjalan-jalan di Tunjungan Surabaya. Bahasa inilah sebagai sebuah icon jika mengunjungi Kota Surabaya. Sama halnya kota-kota besar lainnya di Indonesia, namun Kota Surabaya memiliki nilai sejarah yang semua orang sudah mengenalnya.

In Indonesia known by the term in the language of Surabaya, "Mlaku-mlaku Nang Tunjungan" which means Traveling in Tunjungan Surabaya. Then this is as an icon when visiting Surabaya. Similarly with other major cities in Indonesia, Surabaya has a historical value that everyone already knew about.

Kota surabaya
Figure 1 Surabaya City Tour
kota surabaya
Figure 2 Surabaya City Tour
kota surabaya
Figure 3 Surabaya City Tour
kota surabaya
figure 4. Surabaya City Tour
kota surabaya
Figure 5 Terminal B Juanda airport
KOTA PAHLAWAN, adalah julukan Kota Surabaya. Julukan untuk Kota Surabaya ini dianugerahkan langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tanggal 10 November 1950. Nama harum kota ini adalah sebuah penghargaan kepada Arek-arek Suroboyo didalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan dulu.

CITY OF HEROES, is the nickname of the city of Surabaya. The nickname for the city of Surabaya is conferred directly by the first President of the Republic of Indonesia, Sukarno, November 10, 1950. The fragrance name of this city  is a tribute to Arek-Arek Suroboyo (people of Surabaya) in maintaining the independence of the Republic of Indonesia in the colonial period era.
kota surabaya
Kids Playing In the city
kota surabaya14
The old cannon in front of a building
Edisi kali ini saya mengajak para sahabat semua melihat Kota Surabaya saat ini. Kemajuan pesat terjadi namun bentuk-bentuk bangunan Kota masih menunjukan bangunan -bangunan Tua peninggalan jaman penjajahan. Salah satu museum yang saya kunjungi adalah House of Sampoerna. Gedung-gedung tua seolah menyambut kedatangan saya di salah satu sudut Kota Surabaya. Letak Museum House of Sampoerna ini tak jauh dari kawasan Jembatan Merah, kawasan "kota tua" di Surabaya. Di kawasan ini masih banyak bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dimanfaatkan keberadaannya. Tempat ini dibangun pada tahun 1862 dan sekarang menjadi situs bersejarah di Kota Surabaya. Sebelumnya digunakan sebagai sebuah panti asuhan yang dikelola oleh Belanda, Kawasan ini dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan maksud itu digunakan sebagai  fasilitas produksi rokok. Surabaya juga merupakan kota kulinary yang menyediakan berbagai jenis menu baik menu daerah Jawa Timur, Sunda, sampai makanan khas Nusantara hingga Menu Internasional.

This edition  I would like to invite all of my friends to see Surabaya in today era. The rapid advancement happened but most building forms in the city are still showing buildings of colonial relic. One of the museum I visited is House of Sampoerna. The old buildings as if to welcome me in one corner of the city of Surabaya. The location of the Museum of House of Sampoerna is not far from the Red Bridge area, the area of the "old city" in Surabaya. In this area there are many buildings relic of Dutch Colonialism which is still utilized of its existence. This place was built in 1862 and now as a historic site in the city of Surabaya. Previously used as an orphanage run by the Dutch, this area was purchased in 1932 by Liem Seeng Tee, founder of Sampoerna, with the intention of used as a cigarette manufacturing facility. Surabaya is also a city that provides various types of culinary of East Java, Sunda,  archipelago typical dishes to the International Menu also.

house of sampoerna surabaya
Me in  Museum House of Sampoerna Surabaya
house of sampoerna surabaya
Guest of Museum House of Sampoerna Surabaya
house of sampoerna surabaya
Javanese Tobacco shown in Museum House of Sampoerna Surabaya
house of sampoerna surabaya
Paint and Photo Exhibition in House of Sampoerna Surabaya
house of sampoerna surabaya
The old production houses 
house of sampoerna surabaya
Old Production machine
house of sampoerna surabaya
Old Horses train
house of sampoerna surabaya
Old Dutch Colonial Bike
house of sampoerna surabaya
Old dutch colonial Motorbike
house of sampoerna surabaya
Old balances
house of sampoerna surabaya
Nice Lighting arrangement 
Surabaya merupakan salah satu pintu gerbang perdagangan utama untuk wilayah Indonesia Timur. Dengan segala potensi, fasilitas, dan keunggulan geografisnya Surabaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Sektor primer, sekunder, dan tersier di kota ini sangat mendukung untuk semakin memperkokoh sebutan Surabaya sebagai kota perdagangan dan ekonomi. Bersama-sama sektor swasta saat ini, kota Surabaya telah menjadi kota dagang international. Pembangunan gedung dan fasilitas perekonomian modern merupakan kesiapan Surabaya sebagai bagian dari kegiatan ekonomi dunia.

Surabaya is one of the main trade gateway to eastern of Indonesia. With all the potential, facilities and geographic superiority, Surabaya has enormous economic potential. The primary sector, secondary, and tertiary in the city are supporting to further strengthen of Surabaya designation as a city of trade and economy. Together with the private sector at this time, the city of Surabaya has become a city of international trade. Construction of buildings and facilities of modern economy is the readiness of Surabaya as part of world economic activity.

kota surabaya
Figure 6. Surabaya City Tour
kota surabaya
Development of Surabaya
kota surabaya
Traffic Jam Just Like another big Cities
kota surabaya
Market in The city
kota surabaya
New Building 
kota surabaya
Under the bridge
kota surabaya
rapid development
Sebagai kota besar, tentunya Kota Surabaya juga pernah menyandang nama Negatif yaitu Kota Prostitusi terbesar se Asia Pasific namun Pemerintah sekarang telah berhasil menguranginya dan berusaha untuk menghilangkan citra negatif ini.

As a big city, of course, the city of Surabaya had also bears the negatives name such is the largest Prostitution city in Asia Pacific but the Government now has managed to reduce it and try to eliminate this negative image.




Article and photos by Ketut Rudi

No comments:

Post a Comment